Kalbar//portalsuaraindonesia-com.sg.okeweb.net/

Kalimantan Barat, — Di tengah upaya penguatan pengawasan barang ilegal, penetrasi pasar produk tembakau bermerek “Helium” kian menjadi sorotan. Produk ini dinilai memiliki strategi distribusi yang sangat agresif, meski pengawasan di jalur-jalur masuk diperketat, kemasan rokok tersebut tetap mampu membanjiri pasar domestik di wilayah Kalimantan Barat.

 

Patih, seorang koordinator lembaga swadaya masyarakat, menyatakan keheranannya atas ketersediaan produk tersebut yang merata di hampir seluruh kabupaten dan kota di provinsi ini. Menurutnya, fenomena ini merupakan indikator adanya celah yang perlu segera dievaluasi oleh otoritas terkait, khususnya penyidik pegawai negeri dan penjaga perbatasan.

 

“Keberhasilan produk tanpa izin ini menembus pasar lokal adalah tamparan bagi sistem pengawasan di pintu-pintu gerbang utama, baik di perbatasan darat maupun Pelabuhan Dwikora Pontianak,” ujar Patih.” Senin (4/5)

 

Urgensi Penguatan Sumber Daya dan Integritas

Patih menekankan bahwa kondisi ini menuntut peningkatan kinerja dan komitmen yang lebih mendalam dari para petugas di lapangan. Ia menyoroti pentingnya pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) agar setiap personel memiliki rasa tanggung jawab moral yang tinggi terhadap kedaulatan ekonomi dan hukum.

 

Beberapa poin krusial yang menjadi catatan antara lain :

 

Evaluasi Sistem Pengawasan : 

Meninjau kembali efektivitas patroli di jalur-jalur tikus maupun pelabuhan resmi.

 

Pengembangan SDM : 

Membangun mentalitas aparat yang merasa gagal secara profesional jika barang ilegal tetap lolos dari jangkauan tugasnya.

 

Sinkronisasi Narasi dan Realita : 

Terdapat ketimpangan antara rilis pemberitaan mengenai penangkapan besar-besaran dengan kenyataan di lapangan.

 

“Secara administratif mungkin sering terdengar kabar mengenai penyitaan dalam jumlah fantastis. Namun, fakta di warung-warung kecil dan pedagang kaki lima menunjukkan bahwa produk tanpa pita cukai resmi ini masih sangat mudah didapatkan,” pungkasnya.

 

(Tim Red)