Kotabogor//portalsuaraindonesia-com.sg.okeweb.net/

Kota Bogor, — Kesabaran publik terhadap karut-marut tata kelola infrastruktur olahraga di Kota Bogor nampaknya telah habis. Ketua Ormas GIBAS Kota Bogor, Umar Jagad, secara resmi mengibarkan bendera perlawanan intelektual dan lapangan. Bukan sekadar kritik di atas kertas, GIBAS mengancam akan memobilisasi massa dalam skala besar untuk mengepung Balai Kota Bogor dalam sebuah aksi damai yang dirancang untuk satu tujuan mutlak, Pencopotan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kota Bogor.

 

Dugaan Infrastruktur yang “Cacat” Sejak Lahir

Bagi GIBAS, kegagalan proyek revitalisasi Lapangan Mila Kencana, perbaikan Indoor A GOR Pajajaran, hingga mangkraknya kualitas GOM Bogor Utara bukan lagi sekadar kendala teknis, melainkan bukti nyata dari rapuhnya pengawasan dan lemahnya kepemimpinan di tubuh Dispora.

 

“Fasilitas publik bukan laboratorium kegagalan. Kita bicara tentang uang rakyat yang dikonversi menjadi beton-beton yang rapuh dan janji-janji yang meleset. Jika Kadispora tidak mampu menjaga marwah pembangunan Kota Bogor, maka jalan keluar adalah satu-satunya pilihan terhormat, Letakkan jabatan atau kami yang mendesak Anda keluar,” tegas Umar Jagad dengan nada dingin namun tajam.

 

Balai Kota Sebagai Titik Uji Integritas

GIBAS menegaskan bahwa rencana aksi “pengepungan” Balai Kota bukan bertujuan untuk menciptakan kekacauan, melainkan untuk memberikan tekanan psikologis dan politik kepada Wali Kota agar segera mengambil tindakan tegas.

 

Poin-poin utama tuntutan aksi yang akan dibawa ke jalanan :

Audit Total :

Mendesak transparansi anggaran dan teknis di balik proyek-proyek infrastruktur olahraga yang dinilai bermasalah.

 

Evaluasi Kepemimpinan : 

Menilai Kadispora telah gagal menjalankan fungsi manajerial dan pengawasan lapangan.

 

Ketegasan Wali Kota : 

Menuntut Wali Kota Bogor untuk tidak menjadi “pelindung” bagi pejabat yang tidak kompeten.

 

Sebuah Ultimatum untuk Perubahan

Umar Jagad mengisyaratkan bahwa gelombang massa yang akan turun adalah representasi dari kekecewaan warga yang haus akan fasilitas olahraga berkualitas. Aksi damai ini diposisikan sebagai “alarm terakhir” bagi birokrasi yang mulai tuli terhadap suara bawah.

 

“Kami datang tidak dengan tangan kosong, kami membawa fakta-fakta kegagalan. Pengepungan ini adalah bentuk cinta kami kepada Bogor agar tidak semakin terpuruk oleh birokrasi yang gemuk namun lamban. Wali Kota harus memilih, mempertahankan satu pejabat yang menjadi beban, atau mendengarkan ribuan suara rakyat yang menuntut kualitas,” pungkasnya.

 

Kini, bola panas berada di tangan Wali Kota Bogor. Apakah integritas akan diutamakan, ataukah tekanan jalanan yang akhirnya memaksa sebuah perubahan radikal di tubuh Dispora?

 

Satu hal yang pasti, GIBAS tidak akan mundur sebelum surat pencopotan itu ditandatangani.